Beberapa bulan telah terlewati
semenjak pelantikan saya menjadi seorang Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa
Keluarga Besar Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (DPM KBM STT Telkom). Bulan-bulan
yang menuntut percepatan. Kalau saya boleh ngatain
bulan-bulan belakangan ini, maka saya akan menyebutnya dengan sebutan “bulan-bulan
yang banyak maunya”.

Teringat kata-kata yang terucap
pada sore hari itu, ketika sambutan pertama seusai perhitungan suara pemilu legislatif
selesai dilakukan. Dengan penuh kecanggungan saya beranikan diri untuk member sambutan
di depan teman-teman yang hadir saat itu. Tidak banyak yang saya tekankan saat
itu, selain mengharapkan dukungan untuk menjalankan amanah ini, saya juga
berpesan bahwa dibutuhkan pundak yang kokoh untuk mengemban amanah ini dan
dibutuhkan dada yang lapang untuk menampung berbagai permasalahan yang ada.

Teringat kata-kata yang saya
ucapkan itu, maka biarlah saya melatih pundak rapuh ini agar menjadi kokoh,
karena memang hanya pundak kokoh yang dapat mengemban amanah ini. Dan biarlah
saya melatih dada sempit ini agar sedikit demi sedikit mampu berubah menjadi
lapang, karena memang dada yang sempit tidak akan cukup untuk menampung
berbagai permasalahan yang ada. Kenyataannya adalah bahwa hanya dada lapanglah
yang mampu menampung itu semua.

Dengan amanah ini, saya dipercaya
untuk mengorganisir manusia-manusia yang dahsyat luar biasa. Mereka adalah
saudara seperjuangan saya dalam mengemban amanah ini. Saudara yang senantiasa
meneriakkan semangat perubahan dan mengobarkan api perjuangan, hingga
(harapannya) seluruh kampus merasakan hangatnya perubahan dan perjuangan yang
kami usung.

Dialog sore ini dengan seorang
teman di DPM, di depan pintu istana aspirasi
(sebutan yang sengaja saya gaungkan untuk menyebut sekre DPM ), cukup membuat
diri ini tersadar. Saudari saya itu dengan lugasnya menyatakan pendapatnya
tentang suatu tema yang menjadi pembahasan antara saya dengan teman yang
lainnya. Dengan lancar dia paparkan pengetahuannya tentang tema yang saya bahas
bersama teman saya yang lainnya itu. Singkat, namun jelas. Sejelas tadi pagi
saya melihat matahari yang bersinar dengan terangnya. Saya hanya bisa menatap
lekat-lekat orang yang berdiri di depan saya itu. Tidak menyangka sebelumnya
bahwa ia punya pendapat sebagus itu. Sungguhpun begitu, jujur saja, pikiran
saya langsung mengembara entah ke
alam mana. Antara takjub dan tengsin, kagum dan malu. Masa’ sih pake acara diterangin segala, udah kayak ibu nerangin sesuatu
ke anaknya yang masih kecil
, begitu pikirku dalam hati, dan itu adalah
kenyataannya. Saya hanya bisa tertawa terbahak menertawai diri sendiri. Ya,
benar-benar tertawa, mungkin muka ini juga sempat memerah.

Saat itu sudah mau adzan,
diperjalanan ke masjid kampus pun saya masih merenungi kejadian di depan pintu
istana aspirasi tadi. Ah, tanpa terasa sampai juga ke serambi masjid, lalu membatalkan
shaum karena memang sudah adzan. Manisnya rasa kurma yang saya makan, ternyata
cukup ampuh untuk melupakan dialog tadi. Setelah itu, saya menunaikan Solat
Magrib berjamaah.

Di perjalanan pulang ke kosan pun
saya masih membayangkan kejadian tadi sore. Saat berbaring di kasur, untuk
melepas lelah sejenak, saya masih juga belum bisa melupakan dialog di depan
pintu istana aspirasi. Ahhhh,,, gemessss,,,
kenapa bisa seculun itu ya…. Disuapin
materi layaknya anak kecil yang sedang makan, tanpa bisa berargumen. Lahap saya
menelan pendapat saudari saya itu.

Kalau bicara masalah ego, pasti
sampai pagi ini (malam telah berganti pagi) tidak akan selesai. Tapi satu hal
yang saya sadari bahwa pengetahuan bisa didapat dari mana saja, kebenaran dapat
diucapkan oleh siapa saja, dan hikmah dapat dipetik dari berbagai kejadian. Pikiran
saya singkat saja, kalau tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi, maka
mulai hari ini harus rajin-rajin ngebaca berbagai hal, mulai dari yang saya
tergila-gila karenanya sampai dengan yang saya bergidik merinding karena malas
membacanya. Kalau boleh saya berandai-andai,
jika saat ini tidak ada amanah yang melekat pada diri saya, tentu saja dialog
tadi sore tidak akan terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Tentu saja tidak
perlu ada rasa tengsin. Ya, karena semuanya akan terasa biasa saja.

Saya sadari sepenuhnya. . . .
bahwa amanah ini menginspirasi setiap gerak saya, mempengaruhi respon saya, dan
menuntut untuk dilakukannya aktualisasi diri dengan benar.

Akhirnya saya hanya bisa
berharap, biarlah pundak rapuh ini belajar menjadi kokoh untuk mengemban amanah
yang dititipkan dan dada ini belajar menjadi lapang untuk menampung berbagai
persoalan yang ada.