Ku kunjungi rumah suci-Mu ya Rabb, Baiturrahman, aceh.
Uncategorized September 21st, 2007Sabtu, 8 september 2007 Banda
Aceh. 12.28 WIB
Kongres FL2MI (Forum Lembaga
Legislatif Mahasiswa Indonesia) belum lagi usai, tapi panitia pelaksana
memutuskan untuk rehat sejenak. Maka jadilah waktu yang digunakan untuk rehat
dimaksimalkan untuk lebih mengenal beberapa tempat di aceh.
Sabtu, 8 september 2007 Banda
Aceh. 13.30 WIB
Terik matahari menyambut langkah
kaki ku saat menghampiri halaman masjid Baiturrahman Aceh. Setelah mengelilingi
masjid, akhirnya ketemu juga tempat yang dicari, tempat wudhu. Segar ku rasa
saat setangkup air ku masukkan ke rongga mulut, lalu berkumur dengannya. Ah,
lega sekali rasanya saat gemercik air wudhu membasuh muka ku. Damai sekali
rasanya. Ku nikmati perlahan . . . ada rasa yang berbeda. Damai, tenang. . .
Dada ku bergetar pelan seiring
langkah kaki yang mulai menapaki lantai masjid. Mataku lihai menyapu apa saja
yang ada di dalam masjid ini. Tapi nanti sajalah mengomentari itu semua,
faktanya adalah aku belum solat dzuhur, setelah 30 menit adzan berlalu, karena
memang baru sampai ke masjid ini.
Lirih dalam solat ku, seakan ada
tetesan bening yang menggenang di pelupuk mata dan akan segera jatuh membanjiri
pipi. Ntah mengapa solat ini begitu sedih ku rasa. Setiap ayat al-Fatihah yang
kubaca terasa sangat menyentuh. Ditambah lagi keharuan saat kening ini
menyentuh lantai masjid, ingin ku berlama-lama dalam sujudku. Lirih, namun
damai.
Di akhir rangkaian solat ini, ku
tengadahkan tanganku untuk meminta pada Sang Arrahman. Mantap ku ucapkan
doa-doa harapanku. Dalam salah satu pintaku, ku ingin merasakan kembali
bersujud di tempat ini, tapi aku ragu. Ntah mengapa keraguan itu datang melanda,
berbeda sekali saat pertama kali aku solat di Masjid Syamsul Ulum (MSU) STT
Telkom, saat itu dengan perasaan yang yakin, aku meminta agar aku diizinkan
kembali solat di MSU. Tapi kali ini, di Baiturrahman, aku sedikit ragu. Mungkin
karena hati ini merasa tidak enak saat harus membayangkan kejadian dahsyat
beberapa tahun silam.
Lama ku terduduk di lantai masjid
ini, diam memandangi sekitarnya. Membayangkan bahwa saat ini aku sedang duduk
tenang di masjid yang menjadi tempat bernaung penduduk aceh saat terjadi tsunami
beberapa tahun silam. Terlintas lagi bayangan saat menonton tv, bahwa pada
waktu itu masyarakan berlindung di masjid ini. Ya, Baiturrahman, bangunan yang
berdiri kokoh ditengan-tengah bangunan lainnya yang luluh lantak di terjang tsunami.
Bayanganku kembali ke masa 3
tahun silam, tepatnya Bulan Desember 2004. Dunia dihebohkan oleh berita tentang
tsunami. Siaran berita tak pernah absen memberitakan kehancuran aceh. Gambar-gambar
yang ditayangkan memperkuat bahasa lisan bahwasanya aceh telah rata dengan
tanah saat dibelai oleh tsunami. Saat itu, dunia berkabung . . .
Bush Junior pun ikut memberikan
pernyataannya, “Bangsa Amerika turut berduka cita” katanya datar. Walaupun akhirnya
Ia sendiri pun dicerca di negerinya, karena dianggap sebagai pemimpin yang
memimpin negara yang besar, namun bertindak lambat dan tidak responsive. Sayang
memang . . .
Duet SBY-JK pun tak mau
ketinggalan, rapat super mendadak mereka adakan. Harapannya adalah tercipta
gerakan nyata untuk membantu rakyat aceh, secepatnya! Namun tetap saja yang terjadi
adalah gerakan yang lambat. Sepertinya duet ini terlalu gagap saat harus
menghadapi bencana besar seperti tsunami di aceh. Ayolah, jangan terlalu betah
berlama-lama dalam kegagapan.
Tak ketinggalan, untuk
membuktikan perhatiannya terhadap rakyatnya, SBY-JK pun mengunjungi Aceh. Lengkap
dengan pakaian rapihnya. Pakaian rapih itu lah yang mereka kenakan untuk
mengunjungi korban tsunami yang ntah masih mampu berpakaian atau tidak. Apa kunjungan
ini kunjungan wisata ?!
Tak ketinggalan sekotak mie
instan diberikan sebagai bantuan. Hmm, peduli apa terhadap bantuan mie itu. Duka
rakyat Aceh tidak bisa dihapus dengan sekotak mie instan! Keluarga yang lenyap
tidak akan pernah tergantikan dengan mie instan! Ya, mie instan tidak akan
pernah menjadi obat yang mujarab bagi kesedihan, walaupun jumlahnya bisa
ditumpuk sampai menutupi seluruh langit Aceh.
Tersadar dari pikiran ku. Saat ini
aku sudah harus meninggalkan masjid bersejarah ini. Sayang memang, sepertinya
ada sedikit ketidakikhlasan di hati ini untuk melangkahkan kaki menjauh dari
masjid ini. Terlalu banyak sejarah, terlalu kuat kesan pengorbanan. . . tapi
memang sudah seperti itu suratan takdir mengisahkannya. Aku hanya bisa
meng-iya-kan.
Duka ini duka kita bersama. semoga perbaikan adalah suatu kenyataan di masa mendatang. Mari bangun Aceh, jika saat ini kedamaian telah tercipta, maka selanjutnya adalah distribusi kesejahtraan yang adil dan merata di segala bidang. ^_^
December 17th, 2007 at 2:41 am
hhoooo
November 10th, 2008 at 12:21 am
Great work.
November 18th, 2008 at 2:25 pm
This site is unreal I can’t believe its completely free, it is so easy to do you won’t believe you are getting paid to do it!! I made 20 bucks in my first half hour of work! They will also pay you daily they are the only site that pays out daily. Check em out ..
http://classofcashbrvqcb.blogspot.com