Samudera Kehidupan, Antara Kenyataan Dan Harapan
jalan juang September 28th, 200721.07 WIB, 28 september 2007
Hape yang memang sedang digenggam
berbunyi, memberikan sinyal bahwa ada sms yang masuk. Ku lihat nama
pengirimnya, MJM.
sms itu cukup singkat, bunyinya “bang, sahur nanti simpatinya diaktifin ya. Mama
mau nelpon”.
Sudah biasa mendapat sms seperti
ini. Tanpa ada “rasa-rasa” yang lainnya, aku hanya meniatkan untuk mengganti
simcard ku sesuai dengan permintaan yang tertera di sms itu.
21.46 WIB, 28 September 2007
Kembali hape yang sedang
digenggam berbunyi. Sekali lagi mengirimkan bahwa ada sms yang masuk. Ternyata sms
dari teman yang memang dari tadi smsan. Sms penutup untuk malam ini (mungkin), isinya
singkat namun penuh makna, “eh, sisa usia udah makin berkurang, banyak-banyak
evaluasi diri ya”.
Tadinya masih belum mengerti
tentang arti dua sms yang (sepertinya) tidak saling berhubungan itu. Bertanya tajam
dalam hati, kenapa sms terakhir itu isinya seperti itu, apa ada yang salah? Hanya
bias bertanya dan menjawab sendiri.
Namun pada saat menekan tut shape
dengan jempol, tiba-tiba tersadar… ya ampun, sekarang tanggal 28 September
20007. Sekitar 2 jam lagi, maka hari akan berganti, tanggal pun bertukar. Ya,
aku paham tentang sms terakhir teman ku itu, juga sms dari bunda tercinta.
23.00 WIB, 28 September 2007
Media player yang sengaja ku
setel untuk menemani malam panjang ini, memperdengarkan lagu “bingkai kehidupan”-nya
Shoutul Harokah.
Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Ya Rabb, samudera
kehidupan tlah terarungi selama sekian tahun. Detik berganti menit, menit
berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan,
dan akhirnya bulan berganti dengan tahun, dan seterusnya, dan seterusnya. Samudera
ini adalah samudera yang penuh dengan lika-liku. Kadang berjumpa dengan ombak
halus yang membelai, kadang juga harus berhadapan dengan gelombang badai yang
menghantam.
Entah mengapa,
kesadaran akan kehidupan yang telah, sedang, dan akan ku arungi membuat diri
ini lirih. Sadar sesadar-sadarnya bahwa pengembaraan di samudera kehidupan yang
sebenarnya adalah saat ini, tadi hanya tinggal kenangan, sementara nanti
merupakan harapan. Kehidupan nyata adalah saat ini, karena kita tak bisa terus-terusan
hidup di bawah baying-bayang masa lalu dan tidak bisa pula hidup dengan harapan
mengambang tentang masa depan.
Segurat kenangan
mungkin masih tersisa di tubuh penuh luka ini, sebagai bukti bahwa aku pernah
melawati masa yang lalu. Seberkas sinar harapan mungkin bisa tertangkap oleh
kedua bola mataku, sebagai tanda bahwa ada harapan yang tidak boleh
disia-siakan di masa mendatang. Tapi nyatanya, aku hidup di saat ini, bukan di
masa lalu, juga bukan di masa datang.
23.30 WIB, 28
September 2007
Ya Rabb,
sekian tahun mengarungi samudera kehidupan…. Banyak bekal yang terlewatkan
untuk dikumpulkan. Kadang sedikit terhibur oleh ikan kecil yang berenang di
sekitar bahtera ini. Kadang juga merasa takut untuk mengubah arah bahtera. Memperhitungkan
arah angin dan besarnya ombak, serta kemungkinan karang di depan sana. Ya,
pelajaran dahsyat luar biasa dari atas bahtera yang mengarungi samudera
kehidupan ini.
Ya Rabb, ku
berharap agar agar bahtera ku ini tidak binasa karena terlalu tinggi ku
memasang pengharapan atas realitasnya, tapi juga tidak lenyap dari peredaran
karena terlalu rendah ku memberikan kepercayaan atasnya.
Ya Rabb,
izinkan navigator bahtera ini menuntun ke jalan yang benar. Jangan jadikan aku
seorang pelayar yang berlayar dalam tidur atau tidur sambil berlayar. Tetap jadikan
aku terjaga ya Rabb, jangan jadikan aku seorang pengigau berat yang tidak mampu
menggunakan navigator yang kau berikan, lalu tak tahu dimana posisiku saat ini.
Ku mohon, jangan sampai seperti itu.
Ya Rabb, jadikan
aku sebagai pelaut yang memiliki mental da’i, biar lah sambil berlayar, sambil
ku tebarkan risalah ajaran yang suci ini. Biar samudera kehidupan ini kupenuhi
dengan kalimat-Mu. jadikan aku memilliki mental seperti kaum muslimin waktu
Rasul-Mu masih hidup, yang pada era akhir makkiyah dengan entengnya mereka
berkata “Kami siap melindungi
Rasulullah SAW, sebagaimana
kami melindungi anak-anak dan isteri-isteri kami”. Kecintaan yang
mendalam terhadap kekasih-Mu ya Rabb. Jujur ya Rabb, aku cemburu… karena
era-nya sudah berubah dan tak mungkin aku berkata-kata seperti itu di depan
kekasih-Mu. Tapi satu keyakinan ku, bahwa jalan ini tak kan pernah henti. Saat ini
yang bisa kulakukan adalah perjuangan untuk menegakkan dien-Mu, walau mungkin
diri ini terlalu lemah untuk menopangnya.
Ya Rabb, izinkan
aku menjadi pelaut yang berteriak dengan lantang untuk menggaungkan kalimat
suci-Mu. jadikan lidah ini fasih mengatakan kebenaran sesuai dengan keadaan
objeknya. Tapi jangan juga “terlalu” fasih, sehingga sulit untuk dimengerti. Jangan
biarkan aku tersindir oleh kalimat “Ala Man Taqra’ Zabura ?!” (Kepada siapa Anda Bacakan Zabur?),
yang menyatakan sindiran tajam bagi
da’i yang asyik menyusun kata dan menikmatinya sendiri, tanpa peduli apakah
komunikannya dapat mengerti. Ku mohon ya Rabb, beri
kekuatan dan ketepatan dalam menyampaikan kalimat-Mu.
Ya Rabb,
kusadari samudera kehidupan ini bukan hanya sekedar obral janji. Masih perlu
ditinjau dan dikaji ulang. Apakah telinga ini cukup peka untuk mendengar
rintihan dari orang lain. Apakah mata ini cukup jeli untuk menelisik
permasalahan umat. Dan yang penting adalah apakah tangan ini cukup ringan untuk
memberikan sedikit bantuan pada yang membutuhkan.
00.02 WIB, 29 September
2007
Ya Rabb, sisa
umur makin berkurang. Waktu mengumpulkan bekal kian sempit. Dan waktu pertanggungjawaban
itu kian dekat. Tak pernah ku tahu, kapankah pelayaran panjang ini akan
berakhir dan bagaimanakah pertanggungjawabannya di hadapan-Mu.
Ya Rabb,
jadikan diri ini hanya menghamba kepada-Mu. jadikan hati ini hanya tertaut
pada-Mu. jadikan makhluk-Mu yang kucintai adalah makhluk yang kucintai
karena-Mu, dan itu tidak melebihi cinta ku kepada-Mu. Jadikan aku sebagai hamba
yang turut berkontribusi dalam menegakkan kalimat-Mu ya Rabb. Berharap akhir
pelayaran mengarungi samudera kehidupan ini adalah happy ending full barokah. Jadikan
aku sebagai hamba yang Engkau ridhoi ya Rabb. Amin, amin Ya Rabb.
August 14th, 2008 at 5:19 am
Subhanallah….semangat dedi nulis besar sekali. sampai detik per detik terekam jelas disetiap tulisan. boleh nih belajar dari dedi..:) keep writing bro!